Jumat, 09 Maret 2012

Penyanyi Campursari Manthous Meninggal

Penyanyi Campursari Manthous Meninggal

 
Manthous (ist.)
Yogyakarta, - Seniman musik campursari Jawa Manthous (62) meninggal dunia di Jakarta, Jumat (09/03/2012) pukul 06.30 WIB. Jenazah penyanyi dan pencipta lagu bernama asli Anto Sugiarto itu akan dimakamkan di tanah kelahirannya di Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta.

Kabar duka tersebut juga telah menyebar di sejumlah rekan almarhum di Yogyakarta. Selama ini, Manthous yang sudah lama menderita stroke itu tinggal di Perumahan Bukit Pamulang Ciputat, Tangerang.

"Benar, Mas Manthous meninggal tadi pagi di rumah sakit di Jakarta setelah dirawat beberapa hari," ungkap adik Manthous, Heru, Jumat (09/03/2012).

Menurut Heru, almarhum yang juga pimpinan grup Campur Sari Gunungkidul (CSGK) itu akan dibawa dari Jakarta menuju Playen, Gunungkidul melalui jalan darat hari ini. Pemakaman akan dilakukan Sabtu (10/3/2012) di pemakaman keluarga di Desa Playen, Kecamatan Playen.

"Keluarga di Jakarta baru mengurus untuk pemulangan jenazah ke Playen. Semoga siang ini lancar," katanya.

Selama berkarier di musik campursari Jawa modern, Manthous sering wara-wiri Jakarta dan Gunungkidul. Dia sudah lebih dari 8 tahun menderita stroke dan beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit. Almarhum meninggalkan seorang istri dan 4 anak. Almarhum adalah anak nomor 2 dari enam bersaudara.

Beberapa karya lagu Jawa yang dikemas dalam irama campursari yang diciptakan almarhum di antaranya Anting-Anting, Esemu, Gethuk, Jamilah, Kangen, Konco Tani, Mbah Dukun, Nginang Karo Ngilo, Ojo Gawe-Gawe, Ojo Lamis, Rondho Kempling, Thiwul Gunung Kidul, dan Nyidam Sari.

JAKARTA -Masyarakat kesenian Indonesia, khususnya Jawa kehilangan tokoh pembaharu musik gamelan Manthous yang sangat dikenal dengan musik campur sarinya.
Budayawan Yogya Bondan Nusantara yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (09/03/2012) siang ini menyatakan sangat berduka atas meninggalnya Manthous yang bernama asli Sumanto pagi tadi. Menurut dia, Manthous bukan hanya seniman, tetapi juga pendobrak dan pembaharu musik gamelan/karawitan.
Bagi Bondan, Manthous yang dikenal dengan suara khas serak-serak basah bukan sekadar seniman Gunung Kidul, tetapi sudah menjadi milik para pencinta kesenian Jawa. Dialah yang menginisiasi musik campur sari sehingga menjadi sangat terkenal sekarang ini.
Bondan berharap, para seniman Jawa, khususnya Gunung Kidul harus berterimakasih kepada Manthous yang dengan popularitasnya telah mengangkat Gunung Kidul di dalam kancah musik campur sari. Karena itu, ia berharap para seniman Gunung Kidul, khususnya, mampu mengembangkan musik campur sari menemukan bentuk-bentuk modern agar tak ditinggalkan penggemarnya.
Manthous sudah lama menderita stroke dan kondisi terakhirnya bahkan sudah tidak bisa bicara. “Saya bertemu terakhir tiga bulan lalu di rumahnya. Saat itu Pak Manthous sudah tidak bisa bicara. Setiap kali mendengar musik campur sari atau melihat musik campur sari di televisi, ia berlinangan air mata,” kata Bondan.
Ditambahkan Bondan, Manthous tak sekadar membaharui musik gamelan, tetapi dengan campur sarinya dia juga mengilhami pembaharuan ketoprak. “Dia mengilhami pertunjukan ketoprak dengan musik campur sarinya,” kata Bondan.
Kalau mau jujur, kata Bondan, pertunjukan di televisi seperti Opera van Java itu sebenarnya juga terilhami oleh campur sari. Legenda Campursari Manthous Meninggal Dunia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Google+ Followers

mengusut tentang pewayangan khas majapahit/kebudayaan majapahit

Ruang Komunikasi

Total Tayangan Laman

Loading...
david sasap modongan. Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email

Pengikut

Entri Populer

Jumat, 09 Maret 2012

Penyanyi Campursari Manthous Meninggal

Penyanyi Campursari Manthous Meninggal

 
Manthous (ist.)
Yogyakarta, - Seniman musik campursari Jawa Manthous (62) meninggal dunia di Jakarta, Jumat (09/03/2012) pukul 06.30 WIB. Jenazah penyanyi dan pencipta lagu bernama asli Anto Sugiarto itu akan dimakamkan di tanah kelahirannya di Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta.

Kabar duka tersebut juga telah menyebar di sejumlah rekan almarhum di Yogyakarta. Selama ini, Manthous yang sudah lama menderita stroke itu tinggal di Perumahan Bukit Pamulang Ciputat, Tangerang.

"Benar, Mas Manthous meninggal tadi pagi di rumah sakit di Jakarta setelah dirawat beberapa hari," ungkap adik Manthous, Heru, Jumat (09/03/2012).

Menurut Heru, almarhum yang juga pimpinan grup Campur Sari Gunungkidul (CSGK) itu akan dibawa dari Jakarta menuju Playen, Gunungkidul melalui jalan darat hari ini. Pemakaman akan dilakukan Sabtu (10/3/2012) di pemakaman keluarga di Desa Playen, Kecamatan Playen.

"Keluarga di Jakarta baru mengurus untuk pemulangan jenazah ke Playen. Semoga siang ini lancar," katanya.

Selama berkarier di musik campursari Jawa modern, Manthous sering wara-wiri Jakarta dan Gunungkidul. Dia sudah lebih dari 8 tahun menderita stroke dan beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit. Almarhum meninggalkan seorang istri dan 4 anak. Almarhum adalah anak nomor 2 dari enam bersaudara.

Beberapa karya lagu Jawa yang dikemas dalam irama campursari yang diciptakan almarhum di antaranya Anting-Anting, Esemu, Gethuk, Jamilah, Kangen, Konco Tani, Mbah Dukun, Nginang Karo Ngilo, Ojo Gawe-Gawe, Ojo Lamis, Rondho Kempling, Thiwul Gunung Kidul, dan Nyidam Sari.

JAKARTA -Masyarakat kesenian Indonesia, khususnya Jawa kehilangan tokoh pembaharu musik gamelan Manthous yang sangat dikenal dengan musik campur sarinya.
Budayawan Yogya Bondan Nusantara yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (09/03/2012) siang ini menyatakan sangat berduka atas meninggalnya Manthous yang bernama asli Sumanto pagi tadi. Menurut dia, Manthous bukan hanya seniman, tetapi juga pendobrak dan pembaharu musik gamelan/karawitan.
Bagi Bondan, Manthous yang dikenal dengan suara khas serak-serak basah bukan sekadar seniman Gunung Kidul, tetapi sudah menjadi milik para pencinta kesenian Jawa. Dialah yang menginisiasi musik campur sari sehingga menjadi sangat terkenal sekarang ini.
Bondan berharap, para seniman Jawa, khususnya Gunung Kidul harus berterimakasih kepada Manthous yang dengan popularitasnya telah mengangkat Gunung Kidul di dalam kancah musik campur sari. Karena itu, ia berharap para seniman Gunung Kidul, khususnya, mampu mengembangkan musik campur sari menemukan bentuk-bentuk modern agar tak ditinggalkan penggemarnya.
Manthous sudah lama menderita stroke dan kondisi terakhirnya bahkan sudah tidak bisa bicara. “Saya bertemu terakhir tiga bulan lalu di rumahnya. Saat itu Pak Manthous sudah tidak bisa bicara. Setiap kali mendengar musik campur sari atau melihat musik campur sari di televisi, ia berlinangan air mata,” kata Bondan.
Ditambahkan Bondan, Manthous tak sekadar membaharui musik gamelan, tetapi dengan campur sarinya dia juga mengilhami pembaharuan ketoprak. “Dia mengilhami pertunjukan ketoprak dengan musik campur sarinya,” kata Bondan.
Kalau mau jujur, kata Bondan, pertunjukan di televisi seperti Opera van Java itu sebenarnya juga terilhami oleh campur sari. Legenda Campursari Manthous Meninggal Dunia

 
Template Indonesia | Wayang kulit nusantara
Aku cinta Indonesia